MIftahul Khoer Institute

yang tak tersampaikan

Ritual Tahunan Itu Kini Digabung

leave a comment »

oleh miftahul khoer

Sebuah spanduk terpampang di gedung perkuliahan Fakultas Adab dan Humaniora. Kira-kira 1×4 meter ukurannya. Dengan warna dasar putih dan beberapa tulisan dengan tinta hitam. Tapi, di tengah-tengah spanduk ada sebuah tulisan berwarna biru bernada “be execelents students through EDSEO”.

Jum’at 31 Oktober 2008, tidak seperti biasanya. Hari yang cukup cerah dan sejuk pagi itu. Gedung ZB pun tampak begitu menarik, dengan gaya beberapa mahasiswa yang dipermak habis-habisan, pake dandanan yang tidak common itu. Ada yang pake jas, baju bela diri, seragam pramuka, batik, gothic sampai ada yang mengenakan pakean jadul. Mirip jaman retro puluhan tahun kebelakang, pake kaca mata tebal dan hitam. Asik, seru abis.

Mereka semua bukan sedang mengikuti kuliah. Bukan sedang berada dalam kondangan, bukan pula latihan tepuk pramuka. Tapi hari itu himpunan mahasiswa jurusan Sastra Inggris sedang menggelar acara tahunan semacam orientasi penerimaan anggota baru yang lebih keren orang-orang nyebut EDSEO, (English Department Students Excelents Orientation).

Acara tak jauh beda dengan tahun sebelumnya. Dari mulai pembukaan dari penanggung jawab dan rengrengannya. Senat Mahasiswa Fakultas pun ditunjuk sebagai pembuka EDSEO ini dengan memasangkan pin sebagai simbol pada perwakilan peserta. Tak lupa ketua jurusan—Dadan Rusmana memberi sepatah dua patah kata semacam support pada anak didiknya itu. Diiringi dengan tepuk tangan yang meriah. Wajah mereka terlihat senang. Sumringah.

”seru banget, beda sama yang lain, kalo yang lain kan Cuma pakaian biasa, tapi di BSI beda,” ujar Tia, mahasiswi BSI semester satu ini senang. Tia mengenakan pakaian ala ibu pejabat kala itu. Wow.

Sementara, suasana agak berbeda di lantai tiga. Pakaian serba hitam dikenakan para peserta, di kepala mereka ada sebuah topi yang terbuat dari karton. Masing-masing dari mereka terlihat pede memakainya. Warnanya kuning. Ada yang pakai tali rapia sebagai pengikatnya, juga benang kasur. Topi itu bermotif kerucut. Mirip para penyihir yang ada di TV TV. Unik. Inilah geng-nya anak-anak Sastra Arab.

Lalu. Pagi itu (Minggu, 02/11), sebuah demonstrasi berlangsung panas. Demonstran yang jumlahnya tak banyak, meneriakkan beberapa yel-yel dengan lantang. Mereka menuntut Masa Orientasi Mahasiswa Sastra Arab (MOSART) dibubarkan. Ketua Organizing Committee (OC) dinilai paling bertanggung jawab. Mereka merasa diperlakukan secara tak layak oleh panitia. Kekecewaan mereka semakin menjadi-jadi setelah ketua OC menolak menemui mereka. Kericuhan tak dapat dihindari. Demonstran berusaha menembus barikade keamanan—hendak menerobos masuk wilayah kerja panitia. Byuuur..Crooot.., semburan air comberan bak water canon pun membuat demonstran basah kuyup.

Demikian aksi para mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab saat simulasi aksi. Mereka terlihat sangat ekspresif “bermain peran” sebagai demonstran. Simulasi aksi adalah salah satu materi pada Masa Orientasi Mahasiswa Sastra Arab (MOSART) 2008. Materi ini dinilai sebagai hal yang paling meninggalkan kesan bagi mahasiswa BSA. Setelah dua hari melaksanakan MOSART, mahasiswa masih tak dapat melupakan memori yang terlahir di Gunung Puntang. “Seneng banget dan berkesan. Apalagi pas demo,” ungkap Neneng, salah satu peserta terbaik MOSART.

MOSART adalah salah satu nama orientasi mahasiswa baru (lebih dikenal OPAB) di lingkungan fakultas Adab dan Humaniora, yakni jurusan BSA. Pada waktu dan tempat yang sama, sejumlah mahasiswa dari jurusan lainnya di FAH melaksanakan acara serupa. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) menjuluki acaranya dengan EDSEO. Begitu pula dengan jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI) dan Program Studi D3 Terjemah Bahasa Inggris (TBI).

Dan, ada hal yang unik dan menarik dengan orientasi yang digelar Fakultas Adab & Humaniora (FAH) ini. Yakni, disatukannya semua jurusan dalam satu tempat. Cuma konsepnya saja yang berbeda. Ini bertujuan agar terciptanya kekeluargaan sesama Fakultas. ”kita ingin menyatukan satu visi, bahwa tahun lalu masing-masing jurusan sendiri-sendiri, sekarang kita disatukan… terintegrasi,” ungkap Sulasman—Pembantu Dekan III, yang telah menyambet gelar Doktor itu pada HUMLIT di Lokasi Kemah—Puntang.

Mahasiswa menanggapi hal tersebut secara berbeda. Sebagian merasa penyatuan ini tak memberikan pengaruh bagi acara masing-masing jurusan. “Nggak ada pengaruhnya. Masalahnya cuma tempat aja disatuin. Tapi kita punya acaranya masing-masing kok. Yang penting tetep asyik,” ungkap Mega, peserta MOSART.

Di tempat lain, Suasan pun mulai tegang. Ketika jurusan Terjemah Bahasa Inggris bikin acara dadakan. Semua peserta dipaksa berenang dalam lumpur. Ini bukan orientasi prajurit militer, tapi siang itu panitia melakukannya. Tiap kelompok bersaing, memaksa peserta merangkak sambil bergerak menyusuri tanah kumal, banyak kerikil, tangan mereka luka-luka, Baju mereka kotor.

Kiki syarifudin, mahasiswa TBI asal karawang mempertanyakan konsep acara itu. tidak ada dalam list acara, seharusnya panitia mendengarkan amanat ketua jurusan yang pada waktu itu sempat memberi nasihat pada ‘anak buah’nya, kalau ada hal yang tidak bermanfaat, jangan dilakukan. Kira-kira seperti itu nadanya.

fun, bagus, Cuma melenceng dari acara aja, gak ijin sama ketua jurusan, banyak korban dan juga gak adil,” ungkap kiki, mahasiswa terbaik TBI ini dengan sedikit kesal. Tapi, dia juga merasakan banyak hikmahnya, ”kita bisa mengambil manfaat dari sini, dapat education, fun, knowledge dan tantangan,” tambahnya.

Hal senada diamini oleh Laila, ”berkesan banget, dapet penglaman-pengalaman baru yag belum pernah dirasain, kenal sama kaka-kaka (senior),” kata wanita bercadar ini. Tapi masalah berenang di lumpur, Laila agak menyayangkan masalah ini, dia tidak terbiasa dengan acara seperti itu. ”sebenarnya lumayan terganggu, takut cadar terbuka, waktu dilumpur,” tambahnya.

Kejadian serupa terjadi di pasukan OPAB-nya SPI, para peserta berenang di sungai. Baju mereka basah-basah. Namun keceriaan ada dalam diri peserta—mereka membalas hal yang serupa pada panitia. Usai mereka berenang, bagian panitia menjadi sasaran peserta, rupanya para peserta tak mau kalah, diam-diam mereka membawa air kedalam suatu wadah, lalu disemburkan ke beberapa panitia. ”peserta direnangin, diajak latihan TNI, mereka have fun,” ujar Rokib, ketua Hima Sejarah Peradaban Islam (SPI).

Sekali lagi, kalau melihat sisi akademis di tataran Fakultas Adab & Humaniora, hal semacam itu memang tidak mencerminkan adanya sisi pendidikan. Kasus ini pun tercium oleh ketua Senat Mahasiswa Fakultas, “ini mahasiswa baru, jangan dijadikan sebagai korban,” tandas Yosep Mardiana. “itu diluar kontrol dari panitia, dan saya marahi kenapa itu bisa terjadi, ini memang gak nyambung kalau melihat sisi akademis,” tambah pria berjanggut yang memiliki postur subur ini.

Mahasiswa yang masuk FAH ini memang lebih banyak dari tahun lalu, ada empat kelas dari jurusan BSI, yang masing-masing kelas terdapat sekitar 40 mahasiswa. Animo mahasiswa SPI sendiri lumayan meningkat, ”anggota SPI 21 orang, kemaren 18 orang,” kata Rokib bangga. Ini menjadi sesuatu yang membanggakan bagi civitas akademi kampus, khususnya FAH.

Ini adalah konsep perdana yang diterapkan difakultas FAH, proses penggabungan dalam satu waktu, agar terciptanya kekeluargaan semua jurusan dan terjalinnya silaturahmi masing-masing individu atau jurusan. “ingin melihat sejauh mana keragaman masing-masing jurusan, terutama dalam memenej sebuah kegiatan terutama OPAB,” tutur Yosep, yang senada dengan Sulasman diatas.

Menarik memang, dengan disatukannya orientasi ini, ada tujuan yang cukup penting dari atasan, juga tak beralasan hal ini dilakukan. ”berdasarkan POK bahwa seluruh kegiatan kemahasiswaan ditingkat fakultas, itu PD III yang pegang,” tambah Sulasman, pria yang suka pake rompi ini menegaskan. Jadi, setelah dilaksanakannya OPAB gabungan ini bagaimana perasaan mereka? [] miko, reza, hasan

*tulisan ini bisa dibaca di humlet.wordpress.com dan humlet magazine edisi pertama

Advertisements

Written by suaka

March 14, 2009 at 2:37 am

Posted in Reportase

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: