MIftahul Khoer Institute

yang tak tersampaikan

Archive for May 2009

Celana Dalam

with one comment

Entah dimulai dari mana, aku masih bingung, yang jelas, sekarang aku bangun jam tiga pagi. Mataku yang kanan susah untuk dibuka. Rasa sakit padahal udah hampir usai, tapi segerembolan belek masih menempel. Tapi aku yakin hari ini adalah hari terahirku menyandang predikat cowok bintitan.

Aku masih mikir. Sebelah mana aku harus mulai. Aku bakar dulu racun kecilku. The Jarum Cokelat. Dari dulu sampai sekarang ini racun tetep memakai logo Jarum. Karena kalau pake cap Linggis pasti namanya bukan The Jarum Cokelat, tapi The Linggis Cokelat. Dan mungkin juga di iklannya bukan Nidji, Padi, Gigi dan Nugi yang jadi artis. Kalo enggak grup band The Panas Dalam pasti Budi Anduk. Entahlah. Yang jelas sampai sekarang gak ada rokok yang namanya D’ Linggis Cokelat.

Di computer udah nunjukin jam tiga lebih empat puluh tiga menit. aku berniat menunda tulisanku sampai besok. Karena aku harus nerusin dulu sisa tidurku yang tadi udah kepotong oleh sesuatu.

Ya, ada sesuatu yang telah menyita tidurku malam ini. Sesuatu yang menyenangkan yang membuat celana dalam basah sampai tembus ke celana luar. Tapi sebenarnya sesuatu ini bukan hal yang harus dikonsumsi public. Tapi gak apa-apa, demi membuat tulisan ini lebih delicious, aku akan bagi-bagi sedikit tentang sesuatu itu.

Sesuatu itu adalah hal yang pasti dialami oleh kaum Adam kalo udah menginjak masa kedewasaannya. Sesuatu yang bisa membuat senyum-senyum sendiri kalo udah ngerasainnya. Sesuatu yang bisa dikatakan lucu, karena di dalam sesuatu itu para actor dan artisnya melakukan adegan-adegan yang mirip seperti di VCD terlarang atau file yang di hidden kan seseorang di komputernya.

Sesuatu itu adalah sebuah mimpi. Mimpi yang terjadi pada seorang cowok, yang setiap bulannya bisa sampai tiga kali pertemuan. Terkadang lebih. Mimpi itu tak kenal waktu. Bisa siang bisa juga malam.

Ada yang unik dalam mimpiku tadi. Aku mimpi dengan seseorang wanita. Yang aku kenal pula. Di mimpi itu, pemeran wanita yang aku kenal tadi melakukan pemaksaan. Kekerasan terhadap cowok. Si pemeran wanita tersebut, dalam mimpiku berani membuatku sampai terdiam dan tak berdaya. Preeeet.

Di mimpi itu tak berlangsung lama. Sekitar tujuh menitan. Abis itu aku langsung terbangun. Benar-benar terbangun. Terbangun dalam berbagai konteks.

Computer masih brang bring brong dengan lagu gak karuan. Kayaknya ini lagu hasil pilihan Godi. Aku mengangkat badan dan keluar dari kasur butut itu. Kasur yang sekaligus di jadikan kampas untuk melukis pulau oleh penghuni Suaka. Sekarang udah ada ribuan pulau di kasur itu. Kasur warisan Wicaksono. Dia orang jawa yang mulai betah berkecimpung di Sunda. Entah bener-bener betah atau paksaan kuliah. Yang jelas dia udah mulai menempuh semeseter degradasi.

Di kursi luar, ada sesosok mahluk yang di bungkus dengan sebuah sleeping bag. Awalnya aku nyangka dia Mahluk yang langka, gak taunya, di kursi itu, Godi lagi Molor alias bobo. Tidurnya pulas, kaya bangkai. Dasar bangke. Kayaknya kalo UIN ada yang ngebom juga pasti Godi gak bakal terbangun dari tidurnya. Caduuuuuuk.

Celana dalam masih basah dan lengket. Aku langsung buka dan menggantinya dengan celana pendek. Kebetulan aku bawa celana serep. Sekarang, dengan tanpa celana dalam, aku duduk di depan computer. Masih memikirkan dari mana aku harus mulai menulis. Padahal dari tadi siang banyak hal yang bisa ditulis. Tapi kayaknya sampai satu jam di computer, aku gak menemukannya juga.

Dari pada pusing, mending aku kembali lagi tidur. Lagian besok pagi aku harus latian band. Aku harus ke Cipacing, bertemu teman-teman. Mudah-mudahan Desi jemput aku ke Suaka. Hmmmm…. Ngantuk euy. Aku tidur lagi ah. Pasti besok pagi celana dalamku udah kering.

23 Mei 2009 (03:23)

Advertisements

Written by suaka

May 28, 2009 at 12:59 pm

Posted in Tulisan Bebas

Kopi Gratis

leave a comment »

Aku udah di Suaka. Tapi gak ada siapa-siapa. Gak lama kemudian, iQmah datang ama Ipeng. Mereka mau pinjem helm tutup. Kayanya mau pada pergi. Emang ada sih helm tapi gak tau punya siapa. Tapi aku yakin itu helm yang di meja Suaka milik iyan.

“ada tuh di meja.” Kataku sambil bawain itu helm.

Ipeng coba liat-liat helm, kaya pilih-plih barang dagangan. Untung gak di tawar. Kalo sampe di tawar, udah deh aku jual itu helm. Haha. Boong. Katanya itu helm gak bisa di tutup. ipeng gak jadi  pinjem helm. iQmah akhirnya pinjem punya Indra.

Di luar. Di kursi. Fikri lagi asik-asiknya baca Koran. Aku langsung serobot pinjem korannya. Hari ini, tema yang menarik, tentang para pelacur yang bertobat. Gila. Keren. Rupanya Pikiran Rakyat mantap juga liputannya. Kok aku gak kepikiran. Padahal udah lama banget aku pengen ngangkat tentang kehidupan para pelacur.

Ipeng. Indra. iQmah. Gak lama mereka di Suaka. Mereka langsung cabut. Hilang di telan Bumi. Sekarang aku sendiri lagi. Berteman suara nasyid yang dilantunkan anak UPTQ. Mereka lagi gelar lomba busana muslim antar sekolah yang ada di Bandung. Para pesertanya pada lucu-lucu. Ngegemesin banget. Apalagi orang tuanya. Wuihhhh… kalo gak punya suami, pasti aku culik itu ibu-ibu. Mereka lebih ngegemesin. Terutama buat di cubit-cubit sekeraskerasnya. Duh.

Gak!

Gak mungkin aku sekejam dan sejahat itu. Aku masih punya harga diri. Dari pada rebut istri orang, mending maen rebutan aja sekalian. Lumayan banyak hadiah kalo rebutan di acara panjat pinang. Aslina gariiiiiing.

Gak lama kemudian, munculah dua buah mahluk berseragam salesman. Pakean hitam putih. Femi dan Lumban. Lumban!. Kamana aja lho.

Ya mereka berdua datang tiba-tiba. Femi terlihat cemberut. Sedangkan Lumban ketawa ketiwi. Ada apa ini. Kok kaya ada masalah gitu. Aku gak mau tau. Tapi kenapa mesti pake baju hitam putih segala. Mau ngelamar kerja nih?

Lumban memegang secangkir kopi. Ow ow ow… hatiku mulai deg degan kalo melihat dan menghirup aroma kopi. Rasa resah dan gelisah mulai berkecamuk dalam diri. Lidah sudah menjolor menunggu tawaran dari Lumban. Untung dia berargumen duluan.

“kopi gratis A.” lumban menawarkan.

Kontan saja seluruh urat syaraf yang menempel dalam tubuhku langsung terangsang. Bisikan setan mulai merasuk. “ayo ambil kopi gratis sana.” Begitulah suara samara-samar membisikan pada kedua ekor telingaku.

Gak pikir panjang. Apa lagi sampe 200 meter. Gak. Gak sama sekali. Aku langsung banting badan. Meluncur dengan tanpa menggunakan pesawat.

“mbak, kopi gratis ya.” Kataku pelan tapi pasti.

“ iya sok ambil aja mas.” Jawab si teteh dengan sedikit bibir melebar.

Aku memegang satu cangkir. Tapi dalam hati, bisikan setan itu menghampiri lagi. “ambil dua aja.” Bener juga, aku harus ambil dua cangkir. Dan tangan kiriku memegang satu cangkir lagi. Sekarang ada dua genggaman tangan berisi kopi gratis. Dan langkah mulai rada kaku.

Untuk mengurangi rasa malu, aku rada berbincang bincang ama si teteh. Sambil rada kenalan gitu.

“mbak kalo kopiko tu kantornya dimana ya.” Tanyaku dengan ngeluarin jurus basa basiku.

“di jalan pelajar pejuang mas.” Selorohnya.

“oh…hmm… lain kali kalo aku ada acara, kita boleh kerja sama kan mbak.” Lanjutku.

“bisa mas, tinggal datang aja kekantor.” Timpalnya.

Yes. Sekarang udah cukup waktunya untuk beranjak. Di kiri kananku orang-orang seperti ngeliatin aku. Mungkin mereka menyangka aku orang rakus. Si tukang peminta kopi dua cangkir. Atau mahasiswa si pemburu kopi gratisan. Tapi biarin aku gak peduli.

“oh… ya udah mbak, lain kali aku kesana kalo aku ngadain acara. Makasih ya mbak.” Aku langsung beranjak.

“oh iya sama-sama.” Jawabnya.

Tuh kan, dengan cara basa basi, rasa malu udah bisa dihilangin kan. Hihi. Aku kembali ke Suaka. Tangan masih memegang dua cangkir kopi gratis. Yang satu buat aku sendiri. Yang satunya lagi aku kasih buat Hayati Nufus. Sengaja aku kasih dia. Soalnya, Yati udah menuliskan aku soal tugas sosiologi sastra. Preeet.

Written by suaka

May 28, 2009 at 12:54 pm

Posted in Tulisan Bebas

Belajar Percakapan

leave a comment »

Seharian ini aku full stand by di Suaka. pagi banget udah berangkat, dari rumah sekitar jam setengah delapan. Jam segitu udah sangat early buatku. Aku harus ngejar kuliah sosiologi sastra. Untung dosennya baik banget. Gak rewel. Tadinya aku mau mampir dulu ke kantor, soalnya peralatan menulis ku di simpen di sana, tapi tanggung, aku langsung masuk kelas. Mendengar ceramah dosen dengan seksama.

Kuliah udah usai. Aku nangkring dulu bentar. Sial, hari ini gak ada satupun temen-temen seangkatan. bete. Emang kerasa kalo didunia ini gak ada yang kenal. Rasanya kaya orang asing. Di kampus, dilantai dua, aku Cuma sendiri. Anak-anak semester bawah pada ngeliatin aku. Kaya liatin artis aja. Ada yang tersenyum. Ada yang nyapa. Ada juga yang cuek aja. Dari pada keliatan kaya buaya bunting, aku mengakrabkan diri. Tapi tidak mendirikan akrab.

“eh… Filsafat Bahasa masuk jam sekarang ya.” Tanyaku pada segerombolan mahasiswa semester empat. semua mahasiswi pake kerudung. Ya iyalah masa pake helm.

“iya A bentar lagi.” Jawab salah seorang cewek.

Serius, itu Cuma basa basi. Padahal mata kuliah Filsafat Bahasa, aku kebagian hari Jum’at. Itu kan sekedar acting buat ngelatih percakapan dengan orang asing. Hehehe… tapi jangan ampe keseringan. Entar aku di cap sebagai cowok sok akrab. Najis. Gak ada kamusnya kalo aku di panggil kaya gitu. Mending di cap  sebagai cowok sok pinter aja sekalian. Kan lebih enak, tinggal ngebuang kata ‘sok’ nya aja. Jadi deh cowok pinter. Preeet.

Lumayan. Minimal orang-orang gak nganggep aku mahasiswa degradasi. Tapi emang sih kalo mau pede-pedean wajah ku gak tua tua amat untuk kategori mahasiswa kelas karyawan. Maklumlah ini kan hari Rabu. Anak anak seangkatanku pada gak punya jadwal. Tapi lihatlah dengan teliti kalo hari Kamis, wuidih… temen-temen seangkatan pasti menuhin semua isi kelas. Nah lho. Ternyata aku gak sendiri kan terdampar di kelas.

Gak lama, aku langsung cabut dari kelas. Berjalan perlahan. Tangga demi tangga aku jilati segemulai mungkin. Suara sepatu Bot terdengar mirip koboi-koboi di iklan Marlboro. Terus rada mampir dulu ke jurusan buat nengok nilai. Barangkali nilai KKN udah keluar. Tapi di jurusan sepi amat. Aku sedikit ubrak abrik draft nilai angkatanku. Sial. Gak ada satupun nilai KKN yang aku lihat.

Ya udah. Dari pada ketemu ama Kajur, trus di Tanya ini Tanya itu kaya di kuis-kuis, mending aku angkat kakiku menuju kantor. Yeah… ini kaya yang udah udah. Setiap hari aku lewati jalan menuju Suaka. Dari mulai melewati Perpus, mesjid ampe Kopma, tetep aja kaya gitu gak ada yang beda.

Di teras mesjid misalnya, tetep banyak orang yang nongkrong. Trus di kopma masih banyak yang numpang duduk di meja, gak tau mereka Cuma numpang baca Koran gratis atau sekedar ngegosip ria. Entahlah.

Written by suaka

May 28, 2009 at 12:52 pm

Posted in Tulisan Bebas

Hampir Mampus

leave a comment »

tadi aku kaget banget. gilang datang ke Suaka. dia bawa modem M2 buat internetan.
katanya mu dijual satu juta setengah. terus aku ngobrol bentar ama dia di depan Kopma.
kita ngobrolin festival yang di gelar Paduan Suara Mahasiswa UIN SGD BDG.
terus kita rencana mu latian sore di cipacing.

sambil liat-liat modem, Gilang langsung ngajak cabut. aku lupa. modem di taroh di kursi.
aku dan gilang naik motor. pergi ke Cipacing. modem di simpen di kursi.

udah nyampe Cipacing gilang baru inget kalo modem ketinggalan di kampus.
padahal jarak anatara Cipacing ama kampus cukup jauh.

“mik modem mana.”
“gak tau di tas kali.”
“gak ada.”
“ketinggalan di kursi kampus kali.”
“astagfiruloh. ayu kita cari kesana.”

tanpa pikir panjang, aku dan gilang langsung ngebut balik lagi kekampus.
bener-bener konyol. dia lari sekencang mungkin. gilang sempet membentak cewe yang lagi naek motor. cewek itu menghalangi laju kami.
dia shock. kalo saja modemnya hilang di curi orang, entah apa jadinya. untungnya pas udah nyampe kampus,
modem masih utuh kayak semula. gak ada yang ilang. aku dan gilang cuma bersykur sambil ketawa-ketawa.

“anjrit aku kaget.”
“sarua Mik.”

gilang langsung cabut jemput ceweknya. soalnya desi, ceweknya, udah telpon berkali-kali minta dijemput.

“oke lang hati hati.” kataku.

gilang pergi. sekarang motornya ganti jadi kawasaki. motor baru. warna ijo.

Written by suaka

May 14, 2009 at 5:56 am

Posted in Tulisan Bebas

SMS Dari Ndut

leave a comment »

Komputer masih menyala dari pagi. Walaupun gak ada sound-nya. Bete. Kayak di kuburan aja. Emang sih susah banget kalo ngurusin komputer jadul kaya gini. Udah bentuknya kaya tahu Sumedang. Kotak. Terus juga kadang-kadang mati sendiri. Ditambah monitornya yang kurang bersahabat. Suka ganti warna sendiri. Dasar. kaya bunglon aja.

Tapi emang ngaruh banget nih komputer. Dibanding ama mesin tik yang bikin jari bonyok, ini lebih mendingan. Kalo punya temen-temen sih kebanyakan dual core, core two duo, core two gapleh dan semacamnya lah. Tapi si aku tetep pede pake robot ini. Walau jelek tapi ini komputer tempat menampung segala unek-unek di kepala. Semuanya bisa tercurah di komputer tahu Sumedang ini.

Tetep. Lima menit berselang pikiran udah mentok. Mau nulis apa. Masih bingung. Hari ini emang banyak kejadian yang harus dicatet. Tapi apa. Otak masih belum jalan juga. Oke. Aku mulai dari tadi siang. Tepatnya sekitar jam sepuluhan. Tanggal sebelas Mei dua ribu sembilan.

Treeet. Triiit. Hape butut nyala lagi. Setelah semalem abis-abisan di cas. Pesan singkat dateng. Yapz, ini sms pertama hari ini. Untung, hape gak mati. Biasanya kalo ada sms dateng, layar langsung gelap. Mampus. Apalagi kalo ada yang nelpon, udah deh bikin orang suudzon aja. Sangkanya aku gak mau ngangkat tu telpon, padahal emang dari embahnya batere always low bet every time and every where.

Sampe-sampe aku selalu bawa tiga batere dikantong celana. Buat persiapan. Wow. jasfaking my phone. But, it’s really my friend forever. Damn. I love my telefon genggam. Huhu. Mix switching dikit.

“Tw lgu Shania Twain yg from this moment on gak? Sms-in lagh”

Busyet. Ini sms dari si Ndut. Kemana aja tu anak. Baru nongol. Baru ngesemes. Gak sopan banget. Ojol-ojol nge sms kaya gitu. Nanyain kabar kek. Lagi apa kek. Kemana aja kek. Ini mah maen nyuruh aja. Dasar Ndut. Kutil. Bikin kesel aja. Kemana aja sih di sms gak pernah bales mentang-mentang udah jadi artis papan bawah. Sombong lho. Kutil.

“tgu, d cari dlu” jawab ku singkat. Sms di kirim.

Gak lama aku bales tu sms. Aku nyari di komputer. Ngobrak-ngabrik lirik lagu. Shiiiiit. Aku lupa. komputer emang udah di install ulang ama si Ijong. Wadafak. Semua data raib abis. Termasuk puisi-puisi aku. Semuanya is dead. Sial aku gak punya kopiannya lagi. Di blog udah di apus. Damn. Damn. Damn. Sajak Sajak Tengil kayaknya di undur buat di cetak. Hmm… sabar-sabar.
Tanpa pikir panjang aku langsung lari ke kopma. Nyari warnet. Bukan warteg. Tapi warrrrrrneeeeet. Tuuuut. Aku berhenti sejenak. Orang-orang kayak semut semuanya. Sibuk. Recok. Ada yang makan. Ada yang minum. Ada yang ngobrol.

Tapi di meja kopma sebelah kiri pintu warnet, ada yang aku kenal deh. Huh. Tapi siapa ya. Langkah kaki ku percepat. Wiiiissss. Ternyata si Ajeng. Temen KKN-ku ama suaminya yang lagi makan. Yeah. Seperti biasa, sedikit senyuman aku kasih. Rencananya kita mu pada ketemuan gitu sesama kelompok KKN. Kita mu ke garut. Bertamasya ke kota kambing. Daerah kebangsaan dan tanah air si Ajeng. Prêt.

“tunggu bentar ya aku ke warnet dulu.” Kataku
“oke. Jangan lama bang.” Jawab Ajeng
“sip. Sepuluh menit.” Tambahku

Di kopma, mahasiswa UIN lagi pada sibuk ngenet. Kayaknya lagi nyari tugas. Tapi sepertinya lagi ngecek Facebook. Atau jangan-jangan lagi nyari situs yang 17+. Oh. No. jangan berburuk sangka gitu deh. Itu namanya gak baek. Mungkin mereka lagi bete, trus dateng ke warnet buat ngilangin keselnya mungkin. Biarin terserah mereka.

Pintu masuk warnet kopma Heurin banget. Alias pinuuuuuuh pisan. Gak peduli. aku sorobot saja itu pintu. Duh kayaknya gak ada yang kosong deh. “di ujung.” Kata Tuti, pegawai warnet. “sip.” Jawabku.

Aku langsung buka google.com. ketik kata kunci ‘lyrics’. Yes. Udah dapet. Lyrics.com. terus nyari judul yang tadi di pinta si Ndut. Dengan loding agak lambat, itu lirik akhirnya keluar juga.

Triiittt. Truuuut. Sms dateng lagi.

“cpt dwonx.”

Ya, si Ndut sms lagi. Aku suruh buru-buru. Kayak dikejar srigala. Sabar dikit napa sih. Sebenarnya males juga sih, tapi ya, aku gak enak ama si Ndut. Kasian dia. Katanya sih lagi praktek listening gitu di sekolahnya. Emang si aku ini suka di jadiin dukun sama si Ndut. Si Ndut suka minta jimat-jimat kalo ada tugas dari sekolahnya. Terutama bahasa Inggris. Gak gak gak. Menurutnya bahasa Inggris ku keren. Yow yow yow. Padahal nilaiku paling ambruk dikelas. Yeah. Kapan aku selesai kuliah. Wew.

Kata si Ndut, gurunya suruh nulis lirik apa yang dinyanyikan ama tu penyanyi. Tapi kenapa mesti Shania Twain sih. Kenapa gak Nirvana atau Silverchair aja gitu. Gak gaul banget tu guru. Ya minimal the cranberries lah. Atau gak celebrity skin-nya Hole gitu. Ih. Mentang-mentang sekolahan di gunung. Taunya Cuma britni spir aja. Payah.

Tak tik tuk tak tik tuk. Aku tulis lirik di hape buat di sms-in. Hah. Kirain ini lirik pendek. Gak taunya panjang kaya tiang listrik. Huh. Bisa nyampe sepuluh halaman nih kalo nulis di hape mah. Lagian kalo sms bahasa inggris pake singkat-singkat gitu, kayaknya si Ndut gak bakal ngerti dweh. Wrrrrrrr. Sabar. Rela. Ikhlas. Aku ketik itu lirik tanpa disingkat. Tat tit tut tat tit tut. Sending message…pulsa jebol. SIMpati gitu. Mahaaaaaaal.

Ndut…Ndut…Ndut… cewek ngegemesin yang bikin tulang rusuk suka mengkerut. Dulu rambutnya suka gonta-ganti. Sebentar-sebentar salon. Sebentar sebentar salon. Salon kok Cuma sebentar. Tapi gak tau sekarang rambutnya suka disambung apa enggak pake rambut palsu. Rambutnya poni apa enggak. Jerawat di pipi kananya udah meletus apa enggak. Masih suka kebut-kebutan apa enggak.

Yang jelas aku udah puas nyubit tangannya yang gempal. Pipinya yang kaya roti berisi kelapa nang marud. Hehehehe… kapan kita ngejam lagi. bawain lagu astrid lagi. Nyanyiin lgu T2 lagi. Gimana kabar Kapas Band. Kapan mu rekaman tweh Ndut. Kukukukukkkk. Kayaknya kamu sibuk ya. Mau Ujian ya. Mau di terusin kemana nih?. Dusssssssshhhhsssh.

Preet. Gak terasa, di warnet udah mau satu jam. Aku liat dulu blog bentar. Aku ketik mikoalonso.wordpress.com. yes. Agak mendingan sekarang. Penampilannya rada serem. Soalnya kemarin malem, aku udah ganti latar. Sekarang jadi item semua. Ada foto si sayah yang lagi narsis. Idih. Liat pengunjung Cuma segitu aja. Cuma nambah lima orang yang suka liat blogku. Hmmm… tarik nafas bentar. Aku keluarin semua windows. Klik stop. Mahasiswa masih terlihat sibuk browsing. Gudbay dunia.

“dua ribu lima ratus.” Kata Tuti. Aku langsung merogoh saku. Semuanya receh. “thank you.” Kataku sambil bayar trus melangkah keluar. “ yo, sama sama.” Katanya.

Di luar, mahasiswa berbagai merek. Suku. Ras. Warna kulit. Masih pada recok. Gak tau mereka ngomongin apa. Yang pasti si Ajeng udah gak ada di tempat. Waduh kemana tu anak. Katanya mu janjian ketemuan. Ya udah. Aku lanjutin langkah kakiku menuju kantor. Mungkin si Ajeng udah nunggu disana.

Gak lama kemudian suara sms bunyi lagi. Aku bertanya Tanya. Ini dari siapa lagi. Mau ngapain. Ada apa. Kayaknya Ajeng nge-sms. Aku rogoh saku celana. Ngambil hape butut. Baca sms. Tapi bukan dari Ajeng. Ini sms Ndut lagi. Duh. aDa apa Kutil.?

“masih pnjang tw…”

Pasti. Si Ndut bakal sms lagi. Soalnya aku gak sempet kirimin itu lirik ampe tamat. Pasti dia uring-uringan nyari sisa liriknya. Soalnya lagi itu lirik panjang banget. Jadi gak mungkin aku sms-in semua itu lirik. Sori ya Ndut. Kutil. Pulsanya abis. Gak cukup. Ntar aja deh aku kirim lirik lirik yang lho mau. Hehehe. Peace.

Written by suaka

May 13, 2009 at 7:20 am

Posted in Tulisan Bebas

Subang Yang Gerah

leave a comment »

Written by suaka

May 9, 2009 at 6:34 pm

Posted in Puisi

Mading dan Buletin Buat Pramuka

leave a comment »

Written by suaka

May 3, 2009 at 4:38 pm

Posted in Tulisan Bebas