MIftahul Khoer Institute

yang tak tersampaikan

Kopi Gratis

leave a comment »

Aku udah di Suaka. Tapi gak ada siapa-siapa. Gak lama kemudian, iQmah datang ama Ipeng. Mereka mau pinjem helm tutup. Kayanya mau pada pergi. Emang ada sih helm tapi gak tau punya siapa. Tapi aku yakin itu helm yang di meja Suaka milik iyan.

“ada tuh di meja.” Kataku sambil bawain itu helm.

Ipeng coba liat-liat helm, kaya pilih-plih barang dagangan. Untung gak di tawar. Kalo sampe di tawar, udah deh aku jual itu helm. Haha. Boong. Katanya itu helm gak bisa di tutup. ipeng gak jadi  pinjem helm. iQmah akhirnya pinjem punya Indra.

Di luar. Di kursi. Fikri lagi asik-asiknya baca Koran. Aku langsung serobot pinjem korannya. Hari ini, tema yang menarik, tentang para pelacur yang bertobat. Gila. Keren. Rupanya Pikiran Rakyat mantap juga liputannya. Kok aku gak kepikiran. Padahal udah lama banget aku pengen ngangkat tentang kehidupan para pelacur.

Ipeng. Indra. iQmah. Gak lama mereka di Suaka. Mereka langsung cabut. Hilang di telan Bumi. Sekarang aku sendiri lagi. Berteman suara nasyid yang dilantunkan anak UPTQ. Mereka lagi gelar lomba busana muslim antar sekolah yang ada di Bandung. Para pesertanya pada lucu-lucu. Ngegemesin banget. Apalagi orang tuanya. Wuihhhh… kalo gak punya suami, pasti aku culik itu ibu-ibu. Mereka lebih ngegemesin. Terutama buat di cubit-cubit sekeraskerasnya. Duh.

Gak!

Gak mungkin aku sekejam dan sejahat itu. Aku masih punya harga diri. Dari pada rebut istri orang, mending maen rebutan aja sekalian. Lumayan banyak hadiah kalo rebutan di acara panjat pinang. Aslina gariiiiiing.

Gak lama kemudian, munculah dua buah mahluk berseragam salesman. Pakean hitam putih. Femi dan Lumban. Lumban!. Kamana aja lho.

Ya mereka berdua datang tiba-tiba. Femi terlihat cemberut. Sedangkan Lumban ketawa ketiwi. Ada apa ini. Kok kaya ada masalah gitu. Aku gak mau tau. Tapi kenapa mesti pake baju hitam putih segala. Mau ngelamar kerja nih?

Lumban memegang secangkir kopi. Ow ow ow… hatiku mulai deg degan kalo melihat dan menghirup aroma kopi. Rasa resah dan gelisah mulai berkecamuk dalam diri. Lidah sudah menjolor menunggu tawaran dari Lumban. Untung dia berargumen duluan.

“kopi gratis A.” lumban menawarkan.

Kontan saja seluruh urat syaraf yang menempel dalam tubuhku langsung terangsang. Bisikan setan mulai merasuk. “ayo ambil kopi gratis sana.” Begitulah suara samara-samar membisikan pada kedua ekor telingaku.

Gak pikir panjang. Apa lagi sampe 200 meter. Gak. Gak sama sekali. Aku langsung banting badan. Meluncur dengan tanpa menggunakan pesawat.

“mbak, kopi gratis ya.” Kataku pelan tapi pasti.

“ iya sok ambil aja mas.” Jawab si teteh dengan sedikit bibir melebar.

Aku memegang satu cangkir. Tapi dalam hati, bisikan setan itu menghampiri lagi. “ambil dua aja.” Bener juga, aku harus ambil dua cangkir. Dan tangan kiriku memegang satu cangkir lagi. Sekarang ada dua genggaman tangan berisi kopi gratis. Dan langkah mulai rada kaku.

Untuk mengurangi rasa malu, aku rada berbincang bincang ama si teteh. Sambil rada kenalan gitu.

“mbak kalo kopiko tu kantornya dimana ya.” Tanyaku dengan ngeluarin jurus basa basiku.

“di jalan pelajar pejuang mas.” Selorohnya.

“oh…hmm… lain kali kalo aku ada acara, kita boleh kerja sama kan mbak.” Lanjutku.

“bisa mas, tinggal datang aja kekantor.” Timpalnya.

Yes. Sekarang udah cukup waktunya untuk beranjak. Di kiri kananku orang-orang seperti ngeliatin aku. Mungkin mereka menyangka aku orang rakus. Si tukang peminta kopi dua cangkir. Atau mahasiswa si pemburu kopi gratisan. Tapi biarin aku gak peduli.

“oh… ya udah mbak, lain kali aku kesana kalo aku ngadain acara. Makasih ya mbak.” Aku langsung beranjak.

“oh iya sama-sama.” Jawabnya.

Tuh kan, dengan cara basa basi, rasa malu udah bisa dihilangin kan. Hihi. Aku kembali ke Suaka. Tangan masih memegang dua cangkir kopi gratis. Yang satu buat aku sendiri. Yang satunya lagi aku kasih buat Hayati Nufus. Sengaja aku kasih dia. Soalnya, Yati udah menuliskan aku soal tugas sosiologi sastra. Preeet.

Advertisements

Written by suaka

May 28, 2009 at 12:54 pm

Posted in Tulisan Bebas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: