MIftahul Khoer Institute

yang tak tersampaikan

Ujian Akhir Semester

leave a comment »

Hari ini hari Jumat. Hari yang khusus untuk para kaum pria melaksanakan ibadah Jumat. Selain lelaki atau pria atau cowok, dilarang melaksanakan Jumatan. Karena dari dulu juga tidak ada kabar kalau setiap hari Jumat seluruh mesjid sekitar jam 12 siang dipenuhi oleh kaum wanita untuk Jumatan. Tidak ada sama sekali. Kalaupun ada kasih tahu saya. Saya pingin ikut Jumatan bareng para wanita.

Hari jumat sekarang boleh dikatakan hari yang gado-gado. Dari semalam saya bingung mikirin tugas Ujian Akhir Semester atau disingkat UAS. Kenapa saya bingung? Karena saya pusing? Kenapa saya pusing? Karena saya belum mendapatkan sebuah ide yang cemerlang untuk menyiasati bagaimana mengerjakan sebuah tugas UAS. Emang seperti apa tugasnya sampai saya bingung dan pusing? Saya akan ceritakan seperti yang dibawah ini:

Suatu hari, saya mendapati seorang teman kuliah sedang tidak kuliah. Saya lupa lagi siapa teman saya itu. Tapi saya hafal dia itu perempuan. She is a girl. Dia adik kelas saya. Dia semester enam. She is six semester. (kalo salah mohon dibenerin) nah, setelah itu barulah saya menanyakan kepada dia tentang UAS yang akan digelar itu kapan.

“kapan UAS Drama 2.” Saya berkata.

”bikin sandiwara radio, terus dikumpulin paling lambat hari Jumat.” dia menjawab.

Setelah mendengar itu saya mendadak berfikir sejenak. Apa yang akan saya lakukan untuk membuat sebuah ujian akhir semester itu. Lama sekali saya berfikir. Merenungi sesuatu yang belum saya cari dan temukan. Akankah sebuah ilham datang pada saya secara tiba-tiba.

Sambil mencari ilham yang belum juga datang, saya mencari sesuatu yang lain. Mencoba keluar ruangan dan melihat suasana sekitar. Mudah-mudahan ilham ada di situ. Tapi ternyata ilham belum juga muncul dari benak saya. Harus bagaimanakah ini sodara-sodara? Dimanakah ilham berada?

Nah, munculah sedikit bayang-bayang menghampiri saya. Sekitar rada sore, datanglah dua orang manusia menuju kantor yang saya naungi ini. Godi dan Dilla. Mereka usai membagikan terbitan baru Suaka ke berbagai kampus tetangga. Sebut saja Suara Mahasiswa Unisba, Boulevard ITB, Jumpa Unpas dan temen-temen Pers Kampus lainnya. Dilla menjingjing sebuah kresek hitam berisi nasi buatan si Emak. Didalamnya ada dua bungkus. Siapa itu si Emak? Akan saya ceritakan nanti.

”Dil, punya MP4 gak.”

”punya, buat apa Bang.”

”pinjemlah saya mu ngerekam nih.”

”ada di kosan.”

Yes, rupanya ilham datang juga. Saya mulai berfikir lagi, mau ngapain setelah MP4 ada? Ternyata bingung juga. Saya pun mencari ilham yang lain dengan mendengarkan beberapa sandiwara radionya kang Ibing. Dari mulai cerita Ronda sampai Bebesanan, saya simak sesimak simaknya demi menemukan sebuah ide yang cemerlang. Barulah dari situ saya menyusun kata-kata yang akan saya rekam.

Hari mulai larut. Dilla belum juga muncul. Katanya dia mau pinjemin MP4, tapi sampai matahari bersembunyi pun dia belum nongol. Kemanakah kau Dilla. Lupakah engkau pada diriku yang telah berjanji akan meminjamkan MP4. Tega nian engkau Dilla. Diriku yang tersiksa oleh sebuah tugas UAS ini mengharapkan sekali apa yang telah kita berdua ini sepakati. Preeet.

Oke. Tidak apalah, saya mencoba meminjam ke manusia lain. Dodi Rahmadi, ya, katanya dia juga memiliki sebuah MP4. Haruskah saya meminjam padanya? Harus! Baiklah, segera saya telefon itu si Dodi. Dan segera pula saya cari nomor kontaknya di hape. Sedangkan waktu sudah mendekati magrib. Tidak apalah saya menelfon dia magrib-magrib. Toh magrib juga gak bakal memarahi saya.

”assalamualikum.”

”walaikumsalam…siapa ini?’

”ini Miko, Dod.”

”O, a Miko, ada apa a.”

”Dod, saya mau pinjem MP4, boleh gak.”

”O, boleh a, ntar abis magrib aja ya a.”

”O, iya, gak apa apa.”

”saya yang kesana atau gimana.”

”iya Dodi yang kesuaka aja deh. Makasih ya Dod.”

”yu a, sama sama.”

Begitulah kira kira percakapan saya bersama seorang teman saya yang bernama Dodi Rahmadi. Setelah beberapa menit kemudian, datanglah Dodi bersama MP4nya. Saya sudah berada di luar kantor. Dari kejauhan saya sudah menebak bahwa yang sedang berjalan sambil merokok itu pasti Dodi, soalnya dari cara dia berjalan sudah ketahuan. Dia itu jangkung dan berkacamata.

Dodi menghampiri saya dan memberikan itu Mp4. Maksudnya mengasih pinjam MP4 pada saya. Karena tidak mungkin Dodi memberi MP4nya sama saya. Pasti dia juga butuh untuk sekedar mendengarkan musik. Nah, setelah adegan saling memberi dan menerima antara Dodi dan Saya, mengenai MP4 itu, datanglah seorang manusia lagi. Kali ini jenis kelaminnya kewanitaan atau bisa dibilang perempuan. Namanya kurang lebih Ristalia. Siapakah Ristalia itu? Juga akan saya bahas. Insya Alloh kalau ada waktu dan space yang cukup. Doakan saja agar saya bisa membahas Ristalia dan si Emak.

Advertisements

Written by suaka

June 25, 2009 at 1:51 pm

Posted in Tulisan Bebas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: